Menapaki jalan dakwah tak selamanya mulus. Ada kalanya pemahaman sudah kuat tapi penerapan masih lemah. Ada seorang Al-Akh yang mengeluh betapa susahnya berbisnis dengan sesama ikhwah. Yang leletlah, tidak profesional, tidak sungguh-sungguh, prosedur yang bertele-tele dan kurang amanah. Padahal yang diajak bisnis ini aktivis dakwah yang produktif berdakwah.
Suatu ketika pula berjumpa dengan akhwat yang
mengeluhkan suaminya. Bukan tidak bersyukur, tetapi ingin mencari
solusi. Suaminya adalah dai, sosok yang diidamkan semasa gadis dulu.
Sepak terjangnya di medan dakwah mencatat tinta emas. Namun ketika sudah
berumah tangga, tampaklah kebiasaan yang sesungguhnya: susah bangun
malam, tilawah sehari nggak sampai satu juz, hafalan banyak yang hilang,
kurang perhatian dengan urusan rumah, dan sebagainya dan sebagainya.
Lain
kali pula bertemu dengan ikhwah yang lesu berangkat liqo. Halaqah sudah
semakin kering. Magnetnya semakin mengendur. Maka jadilah forum
bunderan itu majelis setor muka. Tiada makna, tiada kesan.
Dalam
kondisi seperti ini, waspadalah, bahwa ini adalah alarm. Inilah lampu
merah yang berkelip berputar-putar dan berbunyi memekakkan telinga,
mengingatkan kepada kita bahwa kita telah kehilangan sesuatu yang sangat
berharga dalam hidup. Sesuatu itu adalah semangat.
Semangat
ibarat motor dalam sebuah mesin. Dia yang menggerakkan komponen lainnya
untuk berbuat. Tidak sedikit kendala dihadapi, akan tetapi berhasil
dilalui karena adanya semangat yang berkobar-kobar. Banyak permasalahan
menghinggapi namun sukses diatasi karena semangat yang menyala-nyala.
Pun juga potensi diri melejit karena ada semangat untuk introspeksi.
Namun,
ketika semangat ini melemah, akan ada banyak hal yang tak
terselesaikan. Parahnya lagi, jika lemah semangat ini menular kepada
yang lainnya. Tidak hanya kebaikan yang bisa menyebar, keburukan juga
bisa menular dengan cepat. Dalam kondisi seperti ini bertindak cepatlah,
apalagi jika yang melemah itu adalah semangat beribadah dan berdakwah
di jalan Allah.
Pertama, mintalah semangat itu kembali kepada Allah SWT
Hidup
dan mati kita di tangan Allah. Di antara keduanya pun dalam genggaman
kekuasaan Allah SWT. Rasa kecewa, menyesal, putus asa adalah hal biasa
dalam hidup. Ketika suami kita tidak seperti yang kita harapkan semasa
gadis dulu, terimalah dengan besar hati karena kita pun belum tentu
memenuhi sosok istri idamannya. Kekecewaan dan rasa kesal hanya akan
memberatkan langkah menapaki biduk rumah tangga. Pun ketika kita
berpartner dengan ikhwah yang sensitivitasnya rendah, terima saja
sebagai ladang kesabaran. Dengan kesabaran itu insya Allah akan membuka
jalan bagi kemudahan dan keberkahan. Mintalah langsung kepada Allah SWT
agar kerlip cahaya semangat itu senantiasa menyala dan menjadi energi
bagi setiap aktivitas kita. Mintalah dengan semakin mendekat kepadaNya.
Setelah itu, carilah semangat itu di tempatnya berada. Carilah semangat
itu dalam dirimu sendiri. Apakah ia hadir dalam aktivitas kesukaan kita,
atau dalam renungan panjang malam-malam kita, atau dalam memori masa
lalu yang mampu menghidupkan kembali nyala semangat dalam diri.
Kedua, berkaca pada sekeliling
Bisa
jadi melemahnya semangat kita karena ruang edar kita itu-itu saja.
Sedikitnya amal dan banyaknya angan-angan bukan tidak mungkin menjadi
sumber melemahnya semangat. Oleh karenanya, luaskan ruang edar kita
dengan berkaca pada sekeliling. Pada seorang kawan sederhana yang tak
banyak mengeluh namun banyak beramal. Pada alam raya yang tak pernah
protes dengan semua ketentuanNya namun konsisten dengan tugasnya. Dan
luangkan waktu untuk semakin akrab dan penuh perhatian pada
mutarabbi-mutarabbi kita. Sosok yang baru mengenal dunia dakwah, penuh
dengan semangat dan optimisme. Ketika kelelahan semangat ini menggayuti
diri kita, temuilah para mutarabbi ini dan dapatkan kesan mendalam dari
mereka. Kepercayaan yang tinggi pada Murabbinya, idealisme dan
kesungguh-sungguhan untuk berubah menjadi lebih baik dan tentu saja
kepolosan jiwa mereka. Bergaullah dengan mereka yang mengingatkan betapa
enerjiknya kita dulu saat awal-awal mengenal dakwah. Insya Allah
semangat itu akan hadir kembali.
Ketiga, jangan menikmati kefuturan
Kelemahan
itu jangan dibiarkan. Mual-mula hanya kemalasan kecil, tanpa terasa
menjadi batu penghalang kita untuk bergerak. Setiap orang punya masalah.
Setiap makhluk mendapat ujian dari Allah SWT untuk mengetahui siapa
yang paling baik amalnya. Setiap dari kita punya keinginan dan tidak
semuanya terpenuhi. So, anggap biasalah permasalahan dalam hidup. Jangan
nikmati kekecewaan yang membuat kita futur. Kefuturan tidak membuat
kita menjadi lebih baik, apalagi membuat bahagia. Segeralah bangkit dan
kejar ketertinggalan. Semangat itu jangan dibiarkan pergi.
Semangat
dalam diri perlu dipupuk dan ditumbuhsuburkan. Jika ia sehat, maka
auranya akan menyebar kemana-mana. Jadi jangan tularkan futurmu, tapi
jangkitilah sekelilingmu dengan semangat yang tumbuh dalam dirimu. Hidup
terlalu indah untuk dibiarkan berlalu tanpa makna. Dakwah terlalu
berharga untuk diisi dengan rasa kecewa. Surga terlalu jauh jika hanya
diangankan. Marilah bangkit dan raih surga kita dengan penuh semangat.







0 komentar:
Posting Komentar