Salam!

Alhamdulillah we're blessed :)

Keep your faith strong

Islam Ad-Deen

Semarakkan Cinta-Nya!

"Dan taatilah Allah dan Rasul supaya kamu diberi rahmat."(Al-Imran : 132)

Tetaplah di jalan ini kawan

Di jalan yang lurus ini. Agar kita selalu bersama, hingga ujung sana. Di negeri keabadian..

Kiat-Kiat Menghafal dan Muroja'ah Al-Qur'an

Dibawah ini adalah 15 kiat untuk mempermudah cara kita menghafal Al-Qur'an.  Silahkan disimak kemudian di praktikkan. Semoga bermanfaat :)

Kiat-Kiat menghafal Qur'an diantaranya:

1. Ikhlas lillahi ta’ala
Jadikanlah niat dan tujuan menghafal al-quran sebagai taqorrub kepada allah, bukan karena yang lain, seperti ingin mendapat kedudukan, harta, atau penghargaan. Allah tidak akan menerima suatu amalan tersebut dikerjakan murni karena allah.
“Dan tidaklah mereka itu diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya” (QS. Al-Bayyinah : 5)

2. jauh dari maksiat dan dosa
Hati yang gelap disebabkan oleh kemaksiatan dan kesibukan syahwat duniawi, tidak ada tempat baginya cahaya Al-Qur’an. Kemaksiatan akan menghalangi hafalalan dan bisikan syetan memalingkan diri dari oingat kepada Alloh. Allah berfirman, bahwa
“Syetan menguasai mereka dan melupakan mereka dari ingat kepada Allah? (QS. Al-Mujadalah : 10)

3. memanfaatkan masa dan waktu kosong
Anak kecil hatinya paling kosong dan minim dari kesibukan, seperti sebuah pepatah mengatakan, bahwa belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Ahnaf berkata “orang besar lebih banyak akalnya namun lebih sibuk hatinya”.

4. memilih waktu yang tepat
jenganlah anda menghafal pada waktu lelah atau ketika pikiranmu sibuk dengan berbgai urusan karena hal itu akan menghambat konsentrasi. Pilihlah waktu yang tepat. Alangkah baiknya jika memilih waktu sebelum/setelah sholat shubuh.

5. memilih tempat yang tepat
tempat yang tepat biasanya jauh dari keributan dan kebisingan. Hal ini akan memudahkan konsentrasi. Tempat yang afdhol untuk menghafal Al-Quran adalah masjid.

6. motivasi kuat dan sungguh-sungguh
hasrat yang kuat dan benar akan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalm menguatkan hafalan serta memudahkan dan memfokuskan dalam menghafal.

7. melibatkan panca indera
kekuatan dan kemampuan menghafal manusia berbeda-beda dan bertingkat-tingkat satu dengan yang lainnya, tetapi dengan memanfaatkan sejumlah panca indera akan memudahkan hafalan dalam ingatan.

8. membatasi mushaf hanya dalam satu cetakan
diutamakan memilih cetakam musfaf Huffadz (para hafidz) atau mushaf yang standar tiap lembarnya dimulai dengan permualaan ayat dan di akhiri dengan akhir ayat. Hal ini mempunyai pengaruh besar dalam mengkokohkan gambaran/bentk halaman dan memfokuskan ketika muroja’ah.



9. mengoreksi pengucapan
maksudnya membacakan kepada salah seorang yang teliti atau mendengar potongan ayat yang hendak kamu hafalkan dari salah satu seorang quro’ dalam rekaman kaset agar tidak terjadi kesalahan.

10. mengikat hafalan dengan kuat
maksudnya selalu mengulang-ulang dalm membaca dan memperhatikan sambungan antara ayat satu dengan yang lain.

11. memahai maknanya
hendaknya membuka sebagian tafsir yang ringkas agar paham makna-makna ayat tersebut meskipun secara global. Atau minimal gunakan kitab kalimatul Quran Tafsir wa Bayan, oleh Syaikh Husnain Muhammad Makhluf. Sesunguhnya memahami makna kata-kata membantu memperjelas mkna-mkna ayat secara global.

12. kontiyu dalm membaca Quran
hal ini akan memudahkan, memperkuat hafalan, serta merupakan salah satu cara pokok untuk muroja’ah.

13. menghafal bersama
maksudnya menghafal bersama dengan saudaramu atau teman yang lain dengan cara membuat kesepakatan program dalam menghafal atau muroja’ah sehingga masing-masing bisa saling berlomba dan meningkatkan bila salah saru ada yang mengabaikan. Dengan ini akan memudahkan dalam mencapai target dan tujuan.

14. teliti terhadap ayat-ayat yang mirip
banyak sekali di dalam Al-Quran ayat-ayat yang lafadhnya mirip satu sama lain. Oleh karena itu diperlukan kejelian dalam membedakannay.

15. tawakkal kepada Allah SWT
Allah SWT berfirman “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu orang-orang yang beriman” (Al-Maidah : 23)

CHART III

Assalamu'alaikum wr.wb

Kaifahaluk ya ikhwahfillah? Semoga senantiasa dirahmati Allah swt. Aamiin

CHART, Championship of Islamic Art adalah agenda dakwah yang dilangsungkan setiap tahunannya oleh KSI 33 yang dimulai sejak tahun 2010. Pada tahun ini insya Allah agenda tersebut akan dilaksanakan pada hari Minggu, 22 April 2012 dengan tema: "Ciptakan Kreativitas dalam Menanamkan Ghirah Islamiyah (KANVAS MERAH)"

Dengan jenis perlombaan sebagai berikut :
  • Marawis ( SMA sederajat ) 
  • Mading Islami ( SMA/SMP sederajat )
  • Da’i dan Da’iah ( SMA/SMP sederajat ) 
  • MTQ (SMA/SMP sederajat )
  • Cerdas Cermat (SMA/SMP sederajat)
* untuk mendownload ketentuan perlombaan, klik link dibawah
http://www.mediafire.com/?a9map4bljc1yutn

* untuk mendownload formulir lomba:

http://www.mediafire.com/download.php?i3ibswkc4i1g8j5

* kemudian formulir lomba dapat dikirimkan ke:

For more information:
Fahdiansyah Rahman (ikhwan)      : 0838 9861 6775
Magun Surya (ikhwan)                      : 0838 7035 4321
Ghonia Yuntafa (akhwat)                   : 0896 3635 9441


Acara ini terbuka untuk pelajar SMP dan SMA sederajat se-Jakarta Barat
Ayo ajak semua sahabat dan saudara kalian untuk hadir dalam acara ini, kami tunggu kehadirannya dan silahkan menyebarkan informasi ini ke saudara-saudara kita.

Jazakumullah Khairan Katsiran
Wassalamu'alaikum wr.wb
 

Andai Rasulullah mengetuk pintu rumahku



Andai Rasulullah SAW datang mengetuk pintu rumahku….
Terbayang olehku sorot mata yang tajam dan teduh bisa meluluhkan hati yang keras dapat menenangkan hati yang gusar. Ingin kusentuh dan kucium tangannya yang lembut bagaikan sutra. Dapat kucium harum tubuhnya yang lekat. Dapat kulihat tubuh tegap dan gagah yang Allah ciptakan dengan rupa terbaik.
Ingin aku berkata apa adanya :

“Ya Rasulullah do’akan aku agar dapat terangkat segala kesulitan hidupku, semoga Allah melapangkan rizkiku, do’akan aku ya Rasulullah agar baik urusanku di dunia dan akhirat dan jadikan aku kelak mendampingimu di syurga, hidup abadi bersamamu.”

Namun….
Belum sempat aku membuka pintu rumahku, tiba-tiba aku teringat di ruang tamuku ada televisi lengkap dengan DVD playernya, sebuah benda yang mungkin akan menjadi pertanyaan nabiku terkasih, “Benda apa ini? Apa yang engkau saksikan di dalamnya?” Oh…aku pasti malu, karena aku dan keluargaku sering menghabiskan waktu di depan televisi hingga lalai shalatku.

Aku mulai melihat sekelilingku, ternyata buku-buku bacaanku lebih banyak berisi buku-buku umum yang kumiliki. Bahkan Al-Qur’an yang ada nyaris hanya sebagai pajangan belaka karena covernya pun masih bagus dan halamannya masih rapih meski  telah bertahun-tahun menghiasi ruang bacaku. Pasti Rasulullah akan bertanya padaku, “Berapa banyak Al-Qur’an yang engkau baca setiap hari? Apakah ada buku-buku yang menceritakan tentang diriku?” Ah..aku pasti akan terbata-bata menjawabnya, karena jarang sekali aku membukanya karena memang aku tidak tahu cara membacanya.

Aku mulai berjalan ke kamar tidurku kalau-kalau Rasulullah ingin bermalam di rumahku… Ternyata di kamarku hanya ada sedikit ruang untuk shalat sekedar untuk badanku saja. Aduh alangkah repotnya kalau Rasulullah mengajak kami untuk shalat berjamaah, karena di rumahku tak ada mushola keluarga.

Aku melihat foto keluargaku terpampang di kamarku, ada wajah anak-anakku yang ekspresinya lucu. Kalau Rasulullah melihat pasti akan kuceritakan keceriaan mereka yang menggemaskan. Tapi….. aku agak khawatir kalau-kalau Rasulullah bertanya, “Apakah mereka mengenal nabinya dengan baik sebagaimana generasi masaku?” Karena memang aku tidak pernah mengenalkan sosok tentang Rasulullah kepada mereka kecuali sedikit saja. Tentang kelahirannya di tahun gajah….cuman itu yang aku ketahui tentang nabiku.

Oh, hatiku mulai teriris-iris oleh perasaan malu, khawatir dan cemas. Harapanku untuk berakrab-akrab dengan Rasul tercinta mulai pupus…Maafkan aku ya Rasulullah aku belum bisa membuka pintu rumahku untukmu, karena masih banyak pertanyaan yang akan keluar dari lisanmu yang lembut sementara aku belum bisa menjawabnya. Mungkin engkau akan menyaksikan wajahku dengan sebuah senyuman saja…ya sebuah senyuman

Tentang Kesabaran yang Membuahkan Kebesaran…

Abu Darda berkata: “Termasuk tanda pemahaman seseorang terhadap agamanya, adanya kemauan untuk mengurusi nafkah rumah tangganya.” (Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Ishlahul Mal, hlm. 223, Ibnu Abi Syaibah no.34606 dan Al Baihaqi dalam Asy Syuab, 2/365)
Ditengah gemuruhnya kota, ternyata Riyadh menyimpan bayak kisah.
Kota ini menyimpan rahasia yang hanya diperdengarkan kepada telinga dan hati yang mendengar. Tentu saja, Hidayah adalah kehendak-Nya dan Hidayah hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya…

Ada sebuah energi yang luar biasa dari cerita yang kudengar beberapa hari yang lalu dari sahabat saya.Saya mengenal banyak dari mereka, ada beberapa dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka dan kebanyakan dari Mesir dan Saudi Arabia sendiri. Ada beberapa juga dari suku Arab yang tinggal dibenua Afrika. Salah satunya adalah teman dari Negara Sudan, Afrika.

Saya mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu Muslim kulit hitam yang juga kerja di Hotel ini.

Beberapa bulan ini saya tidak lagi melihatnya berkerja.Biasanya saya melihatnya bekerja bersama pekerja lainnya menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh yang sampai saat ini belum bisa ramah dikulit saya.

Hari itu Ammar tidak terlihat.
Karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal tentang kabarnya.

“Oh kamu tidak tahu?”
Jawabnya balik bertanya, memakai bahasa Inggris khas India yang bercampur dengan logat urdhu yang pekat.

“Iyah beberapa minggu ini dia gak terlihat di Mushola ya?” Jawab saya.

Selepas itu, tanpa saya duga Iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar. Dia menceritakan tentang hidup Ammar yang pedih dari awal hingga akhir, semula saya keheranan melihat matanya yang menerawang jauh. Seperti ingin memanggil kembali sosok teman sekamarnya itu.

Dan saya mendengarkan dengan seksama…

Ternyata Amar datang ke kota Riyadh ini lima tahun yang lalu, tepatnya sekitar tahun 2004 lalu.Ia datang ke Negeri ini dengan tangan kosong, dia nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di Kota ini. Saudi arabia memang memberikan free visa untuk Negara-Negara Arab lainnya termasuk Sudan, jadi ia bisa bebas mencari kerja disini asal punya Pasport dan tiket.

Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat.Do’a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal di apartemen teman temannya.

Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan.Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan.

Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat…
Bulan ketiga hingga tahun-tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir..
Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah pindah di Kota ini. Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana kota yang garang.Tapi Ammar tetap bertahan dalam kesabaran.

Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.

Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia.
Hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Dihampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Disini hanya terlihat kurma-kurma yang berbuah satu kali dalam setahun..
Ammar seperti terjerat di belantara kota ini.
Pulang ke Suddan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya di negeri Sudan. Itu tekadnya.
Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya.
Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya disini.

Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan.
Tapi Ammar pun tetap manusia.

Ditahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di teman-temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah.
Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan.Tekadnya telah bulat untuk kembali menemui keluarganya, meski dengan tanpa uang yang ia bawa untuk mereka yang menunggunya.

Saat itupun sebenarnya ia tidak memiliki uang, meski sebatas uang untuk tiket pulang.Ia memaksakan diri menceritakan keinginannya untuk pulang itu kepada teman terdekatnya. Dan salah satu teman baik Ammar memahaminya, ia memberinya sejumlah uang untuk membeli satu tiket penerbangan ke Sudan.
Hari itu juga Ammar berpamitan untuk pergi meninggalkan kota ini dengan niat untuk kembali ke keluarganya dan mencari kehidupan di sana saja.

Ia pergi ke sebuah agen di jalan Olaya- Riyadh, utuk menukar uangnya dengan tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, Negara tetangganya. Tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja.

Akhirnya ia membeli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya.
Ia memesan dari saat itu supaya bisa lebih murah. Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan.
Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya.
Tadi pagi ia tidak sarapan karena sudah tidak sanggup lagi menahan malu kepada temannya, siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan kebiasaan itu.

Adzan dzuhur bergema..

Semua Toko-Toko, Supermarket, Bank, dan Kantor Pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security Kota berjaga jaga di luar kantor kantor, menunggu hingga waktu Shalat berjamaah selesai.
Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh.
Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu.. memabasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air.
Lalu ia masuk mesjid. Shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah.

Hanya disetiap shalat itulah dia merasakan kesejukan,Ia merasakan terlepas dari beban Dunia yang menindihnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui.

Shalat telah selesai.
Ammar masih bingung untuk memulai langkah.
Penerbangan masih seminggu lagi.
Ia diam.
Dilihatnya beberapa mushaf al Qur’an yang tersimpan rapi di pilar-pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengmbil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur’an hingga adzan Ashar tiba menyapanya.

Selepas Maghrib ia masih disana.Beberapa hari berikutnya, Ia memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba.
Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya.
Seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota itu.
Ammar mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing menyapa Kota.
Adzannya memang khas.
Hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk shalat Subuh berjamaah disana.
Adzan itu ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh.
Hingga jadwal penerbanganpun tiba. Ditiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya.
Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota.
Amar sudah duduk diruang tunggu dibandara,
Penerbangan sepertinya sedikit ditunda, kecemasan mulai meliputinya.
Ia harus pulang kenegerinya tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ini tidak sebentar, ia sudah berusaha semaksimal mungkin.

Tapi inilah kehidupan, ia memahami bahwa dunia ini hanya persinggahan.
Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam semesta ini dengan mengeluh. Ia tetap berjalan tertatih memenuhi kewajiban kewajibannya, sebagai Hamba Allah, sebagai Imam dalam keluarga dan ayah buat anak anaknya.


Diantara lamunan kecemasannya, ia dikejutkan oleh suara yang memanggil manggil namanya.
Suara itu datang dari speaker dibandara tersebut, rasa kagetnya belum hilang Ammar dikejutkan lagi oleh sekelompok berbadan tegap yang menghampirinya.

Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata “Prince memanggilmu”.
Ammarpun semakin kaget jika ia ternyata mau dihadapkan dengan Prince.  Prince adalah Putra Raja, kerajaan Saudi tidak hanya memiliki satu Prince. Prince dan Princess mereka banyak tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini. Mereka memilii Palace atau Istana masing-masing.

Keheranan dan ketakutan Ammar baru sirna ketika ia sampai di Mesjid tempat ia menginap seminggu terakhir itu, disana pengelola masjid itu menceritakan bahwa Prince merasa kehilangan dengan Adzan fajar yang biasa ia lantunkan.

Setiap kali Ammar adzan prince selalu bangun dan merasa terpanggil..
Hingga ketika adzan itu tidak terdengar, Prince merasa kehilangan. Saat mengetahui bahwa sang Muadzin itu ternyata pulang kenegerinya Prince langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar yang saat itu sudah mau terbang untuk kembali ke Negerinya.
Singkat cerita, Ammar sudah berhadapan dengan Prince.

Prince menyambut Ammar dirumahnya, dengan beberapa pertanyaan tentang alasan kenapa ia tergesa pulang ke Sudan.

Amarpun menceritakan bahwa ia sudah lima tahun di Kota Riyadh ini dan tidak mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya.
Prince mengangguk nganguk dan bertanya: “Berapakah gajihmu dalam satu bulan?”
Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji sama sekali, bahkan berbulan bulan tanpa gaji dinegeri ini.

Prince memakluminya.
Beliau bertanya lagi: “Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu dapati?”
Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun kebelakang. Ia lalu menjawabnya dengan malu: “Hanya SR 1.400″, jawab Ammar.
Prince langsung memerintahkan sekretarisnya untuk menghitung uang.
1.400 Real itu dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Saat itu juga bendahara Prince menghitung uang dan menyerahkannya kepada Amar.
Tubuh Amar bergetar melihat keajaiban dihadapannya.
Belum selesai bibirnya mengucapkan Hamdalah,
Prince baik itu menghampiri dan memeluknya seraya berkata:
 
“Saya tahu, cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini. Lalu kembali lagi setelah 3 bulan. Saya siapkan tiketnya untuk kamu dan keluargamu kembali ke Riyadh. Jadilah Bilall dimasjidku.. dan hiduplah bersama kami di Palace ini.”

Ammar tidak tahan lagi menahan air matanya.
Ia tidak terharu dengan jumlah uang itu, uang itu memang sangat besar artinya di negeri Sudan yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikannya selama ini, kesabarannya selama lima tahun ini diakhiri dengan cara yang indah.

Ammar tidak usah lagi membayangkan hantaman sinar matahari disiang hari yang mengigit kulitnya. Ammar tidak usah lagi memikirkan kiriman tiap bulan untuk anaknya yang tidak ia ketahui akan ada atau tidak.
Semua berubah dalam sekejap!
Lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar.
Tapi masa yang teramat singkat untuk kekuasaan Allah.


Nothing is Imposible for Allah,
Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah..
Bumi inipun Milik Allah,..
Alam semesta, Hari ini dan Hari Akhir serta Akhirat berada dalam Kekuasaan Nya.
Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan.
Ini adalah cerita nyata yang tokohnya belum beranjak dari kota ini, saat ini Ammar hidup cukup dengan sebuah rumah di dalam Palace milik Prince. Ia dianugerahi oleh Allah di Dunia ini hidup yang baik, ia menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.
Subhanallah…

Seperti itulah buah dari kesabaran.
 
“Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya.
Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran karena sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya”.
(NAI)

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”. (Al Fushilat 35)
Allahu Akbar!
Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya

(Di kisahkan oleh Mohammad Safik di copy-paste dari e-mail seorang teman ex. PHILIPS)

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi-nya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).

Dalam ayat di atas, Allah menjelaskan bahwa orang yang merealisasikan taqwa akan dibalas Allah dengan dua hal. Pertama, “Allah akan mengadakan jalan keluar baginya.” Artinya, Allah akan menyelamatkannya –sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu – dari setiap kesusahan dunia maupun akhirat. Kedua, “Allah akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” Artinya, Allah akan memberi-nya rizki yang tak pernah ia harapkan dan angankan.

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: “Maknanya, barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkanNya dan meninggalkan apa yang dilarangNya, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya,”

Source

Sebelum Tidur, Berwudhulah!

Sebelum tidur, baca dahulu artikel ini.
Setelah membacanya, maka antum akan mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum tidur. Semoga bermanfaat.

Rasulullah SAW bersabda: 
“Barangsiapa tidur dimalam hari dalam keadaan suci (berwudhu’) maka Malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya Malaikat itu akan berucap ‘Ya Allah ampunilah hamba mu si fulan, kerana ia tidur di malam hari dalam keadaan selalu suci’”. (HR Ibnu Hibban dari Ibnu Umar r.a.)
Penjelasan:
Seseorang yang berwudhu’ sebelum tidur, maka ia tidur didalam keadaan suci dan apabila kemudian ia bangun, maka malaikat turut membacakan doa untuk memintakan ampun orang tersebut dari Allah SWT.

Dengan hadits ini Rasulullah SAW memberikan semangat kepada kita supaya berwudhu’ sebelum tidur karena Allah adalah Zat yang Maha Suci dan mencintai kesucian.

Oleh karena itu, orang yang berwudhu’ sebelum tidur adalah orang-orang yang memenuhi panggilan Allah ini, yaitu menjaga kesucian.

Rasulullah SAW bersabda:
“Syaithan mengikat tengkuk salah seorang diantara kamu ketika ia tidur dengan 3 ikatan. Kemudian syaithan itu meniup tiap-tiap ikatan dengan ucapan masih panjang waktu malam, kerana itu teruslah tidur.
Apabila ternyata ia bangun lalu dia mengingati Allah, niscaya ikatannya itu akan terlepas. Jika ia berwudhu’ maka akan terlepas satu lagi ikatan dan jika ia sholat, maka akan terlepas pulalah seluruh ikatan sehingga ia bangun dengan badan yang bersih serta semangat yang segar. Tetapi jika dia tidak bangun, maka perasaannya menjadi lemah lagi malas”. (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a.)
Penjelasan:

Setiap orang yang merebahkan dirinya untuk tidur, maka pada saat itu syaithan akan mengikat 3 simpul talinya pada diri yang bersangkutan. Apabila ternyata orang itu terus tidur sampai kewaktu pagi berarti syaithan itu berhasil, tetapi apabila ia bangun ditengah malam, kemudian dia ingat kepada Allah, maka ikatan syaithan tersebut terlepas dan apabila ia kemudian berwudhu’ maka ikatan tali syaithan yang kedua terlepas. Dan jika ia kemudian berdiri untuk solat malam, maka lepaslah seluruh ikatan tali syaithan tersebut dan orang semacam ini akan menikmati kesegaran badan dan kesegaran rohani pada pagi harinya, sehingga rasa malas menjadi hilang. Semoga kita mendapat hidayah dari sabda yang mulia Baginda Rasulullah SAW.. insya Allah.

Cintanya Abu Bakar kepada Rasulullah

Kita pasti tahu siapa Abu Bakar. Ia adalah lelaki pertama yang memeluk Islam dan juga salah satu sahabat terdekat Rasulullah. Dari lembar sejarah, kita kenang cinta Abu Bakar kepada Al- Musthafa menyemesta. Kisah di bawah ini terjadi pada saat ia menemani Rasulullah berhijrah menuju Madinah dan harus menginap di Gua Tsur selama tiga malam. Menemani Nabi untuk berhijrah adalah perjalanan penuh rintang. Ia sungguh tahu akibat yang akan digenggamnya jika misi ini gagal. Namun karena cinta yang berkelindan di kedalaman hatinya begitu besar, Abu Bakar dengan sepenuh jiwa, raga dan harta, menemani sang Nabi pergi.

###

Ketika Rasulullah berada di hadapan,
Ku pandangi pesonanya dari kaki hingga ujung kepala
Tahukah kalian apa yang terjelma?
Cinta!
(Abu Bakar Shiddiq Radhiyallohu 'Anhu)

Gua Tsur.
Wajah Abu Bakar pucat pasi. Langkah kaki para pemuda Quraisy tidak lagi terdengar samar. Tak terasa tubuhnya bergetar hebat, betapa tidak, dari celah gua ia mampu melihat para pemburu itu berada di atas kepalanya. Setengah berbisik berkatalah Abu Bakar.

“Wahai Rasul Allah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua”. Rasulullah memandang Abu Bakar penuh makna. Ditepuknya punggung sahabat dekatnya ini pelan sambil berujar “Janganlah engkau kira, kita hanya berdua. Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang maha menggenggam kekuasaan, Allah”.

Sejenak ketenangan menyapa Abu Bakar. Sama sekali ia tidak mengkhawatirkan keselamatannya. Kematian baginya bukan apa-apa, ia hanya lelaki biasa. Sedang, untuk lelaki tampan yang kini dekat di sampingnya, keselamatan di atas mati dan hidupnya. Bagaimana semesta jadinya tanpa penerang. Bagaimana Madinah jika harus kehilangan purnama. Bagaimana dunia tanpa benderang penyampai wahyu. Sungguh, ia tak gentar dengan tajam mata pedang para pemuda Quraisy, yang akan merobek lambung serta menumpahkan darahnya. Sungguh, ia tidak khawatir runcing anak panah yang akan menghunjam setiap jengkal tubuhnya. Ia hanya takut, Muhammad, ya Muhammad.. mereka membunuh Muhammad.

###

Berdua mereka berhadapan, dan mereka sepakat untuk bergantian berjaga. Dan keakraban mempesona itu bukan sebuah kebohongan. Abu Bakar memandang wajah syahdu di depannya dalam hening. Setiap guratan di wajah indah itu ia perhatikan seksama. Aduhai betapa ia mencintai putra Abdullah. Kelelahan yang mendera setelah berperjalanan jauh, seketika seperti ditelan kegelapan gua. Wajah di depannya yang saat itu berada nyata, meleburkan penat yang ia rasa. Hanya ada satu nama yang berdebur dalam dadanya. Cinta.

Sejeda kemudian, Muhammad melabuhkan kepalanya di pangkuan Abu Bakar. Dan seperti anak kecil, Abu Bakar berenang dalam samudera kegembiraan yang sempurna. Tak ada yang dapat memesonakannya selama hidup kecuali saat kepala Nabi yang ummi berbantalkan kedua pahanya. Mata Rasulullah terpejam. Dengan hati-hati, seperti seorang ibu, telapak tangan Abu Bakar, mengusap peluh di kening Rasulullah. Masih dalam senyap, Abu Bakar terus terpesona dengan sosok cinta yang tengah beristirahat diam di pangkuannya. Sebuah asa mengalun dalam hatinya “Allah, betapa ingin hamba menikmati ini selamanya”.

Nafas harum itu terhembus satu-satu, menyapa wajah Abu Bakar yang sangat dekat. Abu Bakar tersenyum, sepenuh kalbu ia menatapnya lagi. Tak jenuh, tak bosan. Dan seketika wajahnya muram. Ia teringat perlakuan orang-orang Quraisy yang memburu Purnama Madinah seperti memburu hewan buruan. Bagaimana mungkin mereka begitu keji mengganggu cucu Abdul Muthalib, yang begitu santun dan amanah. Mendung di wajah Abu bakar belum juga surut. Sebuah kuntum azzam memekar di kedalaman hatinya, begitu semerbak. “Selama hayat berada dalam raga, aku Abu Bakar, akan selalu berada di sampingmu, untuk membelamu dan tak akan membiarkan sesiapapun menganggumu”.

Sunyi tetap terasa. Gua itu begitu dingin dan remang-remang. Abu Bakar menyandarkan punggung di dinding gua. Rasulullah, masih saja mengalun dalam istirahatnya. Dan tiba-tiba saja, seekor ular mendesis-desis perlahan mendatangi kaki Abu Bakar yang terlentang. Abu Bakar menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur nyaman Rasulullah. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih itu.

Abu Bakar meringis, ketika ular itu menggigit pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun. Dan ular itu pergi setelah beberapa lama. Dalam hening, sekujur tubuhnya terasa panas. Bisa ular segera menjalar cepat. Abu Bakar menangis diam-diam.

Rasa sakit itu tak dapat ditahan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah yang tengah berbaring. Abu Bakar menghentikan tangisannya, kekhawatirannya terbukti, Rasulullah terjaga dan menatapnya penuh rasa ingin tahu.
“Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini” suara Rasulullah memenuhi udara Gua.
“Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun” potong Abu Bakar masih dalam kesakitan.
“Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?”
“Seekor ular, baru saja menggigit saya, wahai putra Abdullah, dan bisanya menjalar begitu cepat”
 Rasulullah menatap Abu Bakar penuh keheranan, tak seberapa lama bibir manisnya bergerak
“Mengapa engkau tidak menghindarinya?”
“Saya khawatir membangunkan engkau dari lelap” jawab Abu Bakar sendu. Sebenarnya ia kini menyesal karena tidak dapat menahan air matanya hingga mengenai pipi Rasulullah dan membuatnya terjaga.
 Saat itu air mata bukan milik Abu Bakar saja. Selanjutnya mata Al-Musthafa berkabut dan bening air mata tergenang di pelupuknya. Betapa indah sebuah ukhuwah.
“Sungguh bahagia, aku memiliki seorang seperti mu wahai putra Abu Quhafah. Sesungguhnya Allah sebaik-baik pemberi balasan”.
Tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Al-Musthafa meraih pergelangan kaki yang digigit ular. Dengan mengagungkan nama Allah pencipta semesta, Nabi mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah,seketika rasa sakit itu tak lagi ada. Abu Bakar segera menarik kakinya karena malu. Nabi masih memandangnya sayang.
“Bagaimana mungkin, mereka para kafir tega menyakiti manusia indah seperti mu. Bagaimana mungkin?” nyaring hati Abu Bakar kemudian.
Gua Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar yang beristirahat dan Rasulullah berjaga. Dan, Abu Bakar menggeleng kuat-kuat ketika Rasulullah menawarkan pangkuannya.
Tak akan rela, dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu.

Source

Pemburu (Shaf) PERTAMAX!


Siang itu suasana di Masjid sebuah kantor di pinggir laut utara Jakarta lumayan ramai menjelang sholat Dzuhur dilaksanakan.

Iqamat pun dikumandangkan
“Silakan Pak, shaf depan bapak tempati.” Kata Pak Doni.

“Ah, bapak saja yang maju ke shaf pertama.” Kata rekan di sebelahnya yang bernama Pak Aji.
 Memang shaf pertama saat itu sudah hampir penuh, namun masih ada beberapa yang kosong.
“Ayo, silakan bapak saja.” Pak Doni merasa ga enak untuk maju duluan, karena memang Pak Aji adalah atasannya.

Di tengah kesibukan mereka saling mempersilakan, tiba-tiba nyelononglah seorang anak muda yang langsung mengisi shaf pertama itu.

Sambil nengok ke kedua bapak itu, si anak muda berkata,“Maaf Pak, (shaf) PERTAMAX telah diamankan.”
 ###
Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, "Seandainya manusia mengetahui pahala azan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan undian, niscaya mereka melakukan undian itu. Seandainya mereka mengetahui pahala bersegera pergi menunaikan shalat, niscaya mereka berlomba-lomba kepadanya. Dan, seandainya mereka mengetahui pahala jamaah shalat Isya dan Subuh, niscaya mereka mendatanginya meskipun dengan merangkak."(HR. Bukhari)

“Sebaik-baik shaf (barisan) laki-laki adalah yang paling depan dan yang terburuk ialah barisan paling akhir. Namun seburuk-buruk barisan wanita adalah yang paling depan dan yang terbaik ialah yang paling belakang.”(HR. Muslim)
 ###

Selesai sholat berjamaah, Pak Doni ketemu dengan anak muda tadi di serambi masjid.
Langsung Pak Sule menjabat tangan anak muda sambil berkata.“Selamat Anda PERTAMAX, kalau boleh tahu siapakah Anda?”

Anak muda itu menjawab.“Ane adalah PEMBURU (shaf) PERTAMAX! Mari kita berebut menempati shaf PERTAMAX!”
Source

Tegurlah, Tapi Jangan Menyakiti

Tegurlah orang yang melakukan kesalahan dengan cara yang tidak membuatnya merasa malu atau sakit hati

Menegur kesalahan orang lain memerlukan seni tersendiri. Jika kita menegurnya terlalu keras boleh jadi ia akan merasa sakit hati. Kalau kita menegurnya di depan orang banyak tentu ia akan merasa malu. Akibatnya, apa yang diharapkan dari teguran itu boleh jadi tidak terwujud. Atau mungkin saja teguran itu diterima tapi memberikan bekas menyakitkan yang lama di hati orang yang mendapat teguran.


 ###
Ketika di SMA (senior high school), saya baru mulai mendalami Islam dan menjadi sangat bersemangat untuk menjalankannya. Usia masih sangat muda. Sehingga semangat yang sangat tinggi belum diimbangi dengan cara berpikir dan sikap yang lebih bijaksana.

Pada suatu hari, ketika sedang duduk di mushala (surau) sekolah, ada seorang teman yang sedang shalat dzuhur. Ia terlambat melakukannya sehingga kemudian melakukan shalat sendirian.

Tiba-tiba masuk seorang kawannya yang terkenal usil dan suka bercanda. Saat masuk ke dalam mushala dan melihat kawannya sedang sujud, sikap usilnya muncul. Ia segera menghampiri kawannya itu dan menarik kakinya ke belakang, sehingga posisi kawan yang sebelumnya sujud berubah menjadi terlungkup atau tengkurap.

Ya Allah, pelajar ini sedang shalat dan sujud menghadap Tuhannya, tapi posisinya kini menjadi seperti orang yang sedang tidur dengan wajah menghadap ke bawah. Sementara pelajar yang melakukannya tertawa senang karena berhasil mengerjai kawannya itu.

Saya sangat terkejut melihat itu dan melompat spontan dari tempat duduk. Saya menarik pelajar itu dan menjauhkannya dari kawan yang sedang shalat tadi. ”Mengapa kamu melakukan hal itu?” saya menegurnya. ”Jangan bergurau dalam perkara ibadah dan shalat!”

”Oh ...,” pelajar tadi merasa terkejut dan berhenti tertawa, ”maaf.” Wajahnya langsung berubah dan ia segera pergi meninggalkan mushala.

Untunglah ia menerima teguran dan tidak menentangnya. Tapi saya tak dapat melupakan ekspresi wajahnya ketika itu. Teguran itu tampaknya terlalu mengejutkan dan membuatnya merasa sangat malu. Saya jadi menyesal karena terlalu bersemangat melakukannya. Sebenarnya saya boleh menariknya perlahan dan menjelaskan dengan lembut bahwa hal itu tidak baik. Tentu ia tidak akan merasa terkejut atau malu karenanya.

Apa yang dilakukannya memang keterlaluan, sangat keterlaluan. Tapi itu disebabkan ia belum paham. Walaupun perbuatan itu keterlaluan, tapi menegurnya tetap perlu dengan kelembutan. Perbuatan yang terlalu itu sama sekali tidak memberi alasan bagi kita untuk menegur secara keras dan berlebihan, kecuali mungkin jika ia dengan sengaja melecehkan kebenaran.

Bukankah tindakan kencing di dalam masjid itu merupakan tindakan yang keterlaluan? Seorang mukmin tentu akan sangat marah jika melihat ada orang yang sengaja kencing di dalam masjid. Ini juga dulu pernah terjadi di jaman Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dan hal itu membuat marah para sahabat. Tapi Nabi menahan kemarahan mereka dan beliau menegur orang Arab Badui yang melakukan perbuatan itu dengan cara yang baik, sehingga orang ini akhirnya memutuskan masuk Islam.

Maka tetaplah bersemangat dalam beragama, dan bersemangatlah dalam meluruskan yang salah, tapi gunakan kata-kata yang lembut dan tidak menyakitkan. Kecuali jika yang melakukan perbuatan buruk itu memang orang yang sangat memusuhi kebaikan dan sengaja menghalang-halangi orang dari jalan Allah. That’s a different thing.

Source