Kamu merasa telah menjadi orang yang saleh, begitu bertakwa kepada
Allah, tak memiliki catatan dosa, sehingga ketika dirimu ditimpa
penyakit, hartamu lenyap, perniagaanmu merugi, kamu berkata, “Apa
dosaku sampai ditimpa kesusahan seperti ini?“
Padahal
siapa kamu? Sebersih apakah dirimu? Apakah kamu malaikat? Tak pernah
tercemarkah tanganmu? Tak pernah ternodakah lisanmu?
Kalau
kamu memang orang yang ‘bersih’, mari..marilah kemari. Ini Ayyub
عليه السلام , Nabi yang saleh lagi bertakwa. Di satu fase
kehidupannya, Allah عز وجل memberinya cobaan. Syaithan menguasai
jasadnya. Ia tiupkan padanya penyakit, maka tersebarlah penyakit kulit
yang menjijikkan di sekujur tubuhnya . Tergerogotilah sendi-sendi
tulangnya dan melemahlah jasadnya. Setelah itu syaithan membakar
seluruh hartanya dan meninggallah satu per satu anak-anaknya. Karena
tak kuat lagi memikul derita yang kian berat, istri-istrinya pun
satu per satu meninggalkannya, hingga hanya satu orang saja yang
setia menemaninya…Sudahkah kamu menerima cobaan seperti yang beliau
rasakan?
Kalau kamu memang orang yang berhati ‘suci’ tak ‘bernoda’, mari..marilah kemari. Ini Muhammad صلى الله عليه وسلم, kholilullah (kekasih Allah), seorang pemimpin para Nabi dan umat manusia yang paling bertakwa kepada Allah.
Ia pernah dilempar dengan kotoran unta ketika sujud. Dicekik lehernya dengan kain tatkala bermunajat kepada Rabbnya.
Ia
keluar dari Thaif dengan langkah gontai, terusir, diejek anak-anak,
dilempar batu hingga bercucuranlah darah dari pelipisnya membasahi
kakinya..
Ia pemimpin orang-orang bertakwa yang merasakan bagaimana berhari-hari harus mengganjal perut dengan batu untuk menahan lapar.
Ia
tidur di atas tikar usang sampai terlihat guratannya di perut dan
punggungnya, sehingga membuat sosok Umar bin Khaththab رضي الله عنه
yang terkenal keras dan tegas, terenyuh hatinya dan menetes air
matanya. “Di sana Kaisar Romawi dan Kisra Persia bergelimang
buah-buahan dan sungai-sungai, sedangkan engkau utusan Allah dan
pilihan-Nya,.. “ ujarnya sendu. (HR. Muslim no. 1479)
Lantas, sudahkah kamu merasakan seperti yang beliau rasakan?
Kalau
kamu merasa bak pejuang yang banyak berkorban untuk din,
mari..marilah kemari. Ini Ammar bin Yasir رضي الله عنهما, shahabat Nabi
yang mulia, seorang pejuang dari keluarga pejuang islam nan gigih.
Ia
diseret ke padang pasir, didera, dicambuk dan ditindih dengan batu
besar di tengah hamparan cuaca bak neraka. Pernah suatu kali ia
dipanggang dengan api sehingga mengelupaslah kulitnya, hilanglah
kesadarannya.
Tak hanya ini. Kafir Quraisy pun menyakiti Ibunya
tercinta. Mereka menyeretnya, merendahkannya dan menyiksanya. Sampai
puncaknya, mereka menusuk kemaluannya dengan tombak hingga tembuslah
ke anggota tubuh lainnya! Jadilah ia syahid pertama dalam sejarah
islam..
Lalu ayahnya tercinta, setelah menerima
kebengisan demi kebengisan serta siksaan yang sedemikian rupa, tak
kuat lagi raganya menahan semua itu, akhirnya ia menyusul istrinya
tercinta. Ia pun meregang nyawa di tengah kekejaman Quraisy yang kian
memuncak.. Bertambahlah pilu Ammar..
Apakah kamu sudah merasakan apa yang ia rasakan?
Kalau
kamu jadi ‘sengsara’ setelah mencurahkan harta dan tenaga untuk
membela agamamu, mari..marilah kemari. Ini Mush’ab bin Umair رضي الله
عنه, shahabat Nabi yang mulia, seorang pemuda tampan yang tumbuh dari
keluarga kaya raya dan dimanja orang tua. Ketika ia masuk islam,
murkalah ibunya, ia penjarakan anaknya lalu diusirlah ia.
Maka keluarlah Mush’ab meninggalkan kasih sayang orang yang selama ini membesarkannya…
Keluarlah ia meninggalkan kemewahan rumah yang selama ini menaunginya…
Keluarlah ia meninggalkan kenikmatan dunia yang selama ini dirasakannya….
Ketika
Mush’ab Bin ‘Umair رضي الله عنه datang ke Madinah selepas hijrah
dari Habasyah, berubahlah kondisinya. Ia bukan Mushab yang dulu lagi…
Dulu
ia selalu memakai pakaian mewah yang mengundang decak kagum orang,
tapi sekarang ia memakai pakaian yang usang dan penuh tambalan.
Dulu ia berambut indah menawan beroleskan minyak rambut, namun saat ini rambutnya kusut dan kusam, tidak beraturan.
Dulu kulitnya lembut dan halus, tapi kini menjadi tebal dan kasar…
Penampilannya
yang berubah membuat sebagian para shahabat Nabi menundukkan kepala
dan memejamkan mata. Tak kuasa mereka menahan air mata karena
ibanya memandang Mush’ab. Ia harus merasakan cobaan yang demikian
berat demi mempertahankan hidayah yang telah ia rasakan.
Dan wafatnya pun ditangisi..
Abdurrahman
Bin Auf رضي الله عنه pernah disajikan makanan dan ketika itu ia
sedang berpuasa (nafilah). “Mush’ab Bin ‘Umair terbunuh dalam perang
uhud, ” katanya, “Padahal ia lebih baik dariku. Ia dikafani dengan
sehelai kain burdah yang bila ditutup kepalanya, tampaklah kakinya dan
bila ditutup kakinya, tampaklah kepalanya… ” tak sanggup lagi ia
menahan kenangan itu, maka ia pun menangis tersedu-sedu dan
meninggalkan makanan yang sudah dihidangkan untuknya. (HR. Bukhari
no.1216)
Maka sesuci apakah hatimu dibandingkan mereka, saudaraku? Sebersih apakah dirimu sehingga merasa tak layak menerima cobaan?
Ujian Itu Pembuktian
Seandainya
Allah tidak memberikan cobaan kepada seorang hamba karena
keimanannya, lantas apa bedanya orang yang tulus beriman dengan yang
sekedar pura-pura? Apa bedanya orang yang di atas kebenaran dengan
para pengusung kebatilan? Sebab, sudah menjadi ketetapan Allah
terhadap orang-orang beriman bahwa mereka, mau tak mau, akan
menerima cobaan dan ujian.
“Apakah manusia itu mengira
bahwa mereka dibiarkan begitu saja mengatakan: ‘Kami telah
beriman’, sedang mereka tidak diuji? Sungguh Kami telah menguji
orang-orang sebelum mereka, maka Allah benar-benar mengetahui
orang-orang yang jujur (dalam keimanan) dan mengetahui pula
orang-orang yang dusta. “ (QS. Al-Ankabut: 3)
Ketahuilah
saudaraku, cobaan dari-Nya itu bisa berupa kesenangan atau
kesulitan, kelapangan atau kesempitan, kekayaan atau kemiskinan dan
berbagai bentuk fitnah dan ujian. Maka beruntunglah orang yang
menahan hatinya dari marah, menahan lisannya dari meradang dan
menahan tangannya agar tetap dalam ketaatan kepada Allah عز وجل.
Tidaklah ia mengadukan kesedihan dan kegundahannya itu melainkan
hanya kepada Rabbnya.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم
bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin karena segala
perkaranya itu baik. Dan tidaklah itu didapati kecuali dari seorang
mukmin. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur, dan itu baik
baginya. Jika tertimpa kesulitan, ia bersabar, dan itu baik pula
baginya.” (HR Muslim no. 2999)
“Besarnya pahala sesuai
dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya Allah jika mencintai suatu
kaum, pasti Dia akan menguji mereka. Maka siapa yang ridha terhadap
ujian tersebut, baginya keridhaan-Nya dan siapa yang murka, baginya
kemurkaan-Nya ”. (HR. Tirmidzi no. 2396)
“Tidaklah
seorang mukmin ditimpa keletihan, sakit, kegundahan, kesedihan, rasa
sakit dan tidak pula kepiluan sampai duri yang menusuknya melainkan
Allah hapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu semua. “(HR. Bukhari no.
5641 dan Muslim no. 2574)
Dan ketahuilah pula,
seberapapun besar dan dahsyatnya cobaan yang kamu rasakan, itu sesuai
dengan kadar kemampuan dan keimananmu.
“Allah tidak
membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat
pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa
(dari kejahatan) yang dikerjakannya. “ (QS. Al-Baqarah: 286)
Sa’d
bin Abi Waqqash رضي الله عنه bertanya, “Wahai Rasulullah siapakah
orang yang paling besar cobaannya? Rasulullah صلى الله عليه وسلم
menjawab, “Para Nabi lalu orang-orang saleh lalu yang setelahnya dan
setelahnya dari keumuman manusia. Seorang hamba diberi cobaan sesuai
kadar keimanannya. Bila imannya kuat, ditambahlah cobaan untuknya dan
bila imannya lemah diringankanlah cobaannya. Maka tiada henti bala
menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di muka bumi tanpa memiliki
sedikitpun dosa. “ (HR. Tirmidzi no. 2398 dan Ibnu Majah no. 4023)
***






0 komentar:
Posting Komentar