Kita
pasti tahu siapa Abu Bakar. Ia adalah lelaki pertama yang memeluk
Islam dan juga salah satu sahabat terdekat Rasulullah. Dari lembar
sejarah, kita kenang cinta Abu Bakar kepada Al- Musthafa menyemesta.
Kisah di bawah ini terjadi pada saat ia menemani Rasulullah berhijrah menuju
Madinah dan harus menginap di Gua Tsur selama tiga malam. Menemani Nabi
untuk berhijrah adalah perjalanan penuh rintang. Ia sungguh tahu
akibat yang akan digenggamnya jika misi ini gagal. Namun karena cinta
yang berkelindan di kedalaman hatinya begitu besar, Abu Bakar dengan
sepenuh jiwa, raga dan harta, menemani sang Nabi pergi.
###
Ku pandangi pesonanya dari kaki hingga ujung kepala
Tahukah kalian apa yang terjelma?
Cinta!
(Abu Bakar Shiddiq Radhiyallohu 'Anhu)
Gua Tsur.
Wajah Abu Bakar pucat pasi. Langkah kaki para pemuda Quraisy tidak lagi terdengar samar. Tak
terasa tubuhnya bergetar hebat, betapa tidak, dari celah gua ia mampu
melihat para pemburu itu berada di atas kepalanya. Setengah berbisik
berkatalah Abu Bakar.
“Wahai Rasul Allah, jika mereka melihat ke
kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua”.
Rasulullah memandang Abu Bakar penuh makna. Ditepuknya punggung sahabat
dekatnya ini pelan sambil berujar “Janganlah engkau kira, kita hanya
berdua. Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang maha menggenggam kekuasaan, Allah”.
Sejenak
ketenangan menyapa Abu Bakar. Sama sekali ia tidak mengkhawatirkan
keselamatannya. Kematian baginya bukan apa-apa, ia hanya lelaki biasa.
Sedang, untuk lelaki tampan yang kini dekat di sampingnya, keselamatan
di atas mati dan hidupnya. Bagaimana semesta jadinya tanpa penerang.
Bagaimana Madinah jika harus kehilangan purnama. Bagaimana dunia tanpa benderang penyampai wahyu. Sungguh, ia tak gentar dengan tajam mata
pedang para pemuda Quraisy, yang akan merobek lambung serta
menumpahkan darahnya. Sungguh, ia tidak khawatir runcing anak panah
yang akan menghunjam setiap jengkal tubuhnya. Ia hanya takut, Muhammad, ya Muhammad.. mereka membunuh Muhammad.
###
Berdua mereka berhadapan, dan mereka sepakat untuk bergantian berjaga. Dan keakraban mempesona itu bukan sebuah kebohongan. Abu Bakar memandang wajah syahdu di depannya dalam
hening. Setiap guratan di wajah indah itu ia perhatikan seksama.
Aduhai betapa ia mencintai putra Abdullah. Kelelahan yang mendera
setelah berperjalanan jauh, seketika seperti ditelan kegelapan gua.
Wajah di depannya yang saat itu berada nyata, meleburkan penat yang ia
rasa. Hanya ada satu nama yang berdebur dalam dadanya. Cinta.
Sejeda kemudian, Muhammad melabuhkan kepalanya di pangkuan Abu Bakar. Dan seperti anak kecil, Abu Bakar berenang dalam samudera kegembiraan yang sempurna. Tak ada yang dapat memesonakannya selama hidup kecuali saat kepala Nabi yang ummi berbantalkan kedua
pahanya. Mata Rasulullah terpejam. Dengan hati-hati, seperti seorang
ibu, telapak tangan Abu Bakar, mengusap peluh di kening Rasulullah.
Masih dalam senyap, Abu Bakar terus terpesona dengan sosok cinta yang
tengah beristirahat diam di pangkuannya. Sebuah asa mengalun dalam
hatinya “Allah, betapa ingin hamba menikmati ini selamanya”.
Nafas harum itu terhembus satu-satu, menyapa wajah Abu Bakar yang sangat dekat. Abu Bakar tersenyum, sepenuh kalbu ia menatapnya lagi. Tak jenuh, tak bosan. Dan seketika wajahnya muram. Ia teringat perlakuan orang-orang Quraisy yang memburu Purnama Madinah seperti memburu hewan buruan. Bagaimana mungkin mereka begitu keji mengganggu cucu Abdul Muthalib, yang begitu santun dan amanah. Mendung di wajah Abu bakar belum juga surut. Sebuah kuntum azzam memekar di kedalaman hatinya, begitu semerbak. “Selama hayat berada dalam raga, aku Abu Bakar, akan selalu berada di sampingmu, untuk membelamu dan tak akan membiarkan sesiapapun menganggumu”.
Sunyi tetap terasa. Gua itu begitu dingin dan remang-remang. Abu Bakar menyandarkan punggung
di dinding gua. Rasulullah, masih saja mengalun dalam istirahatnya.
Dan tiba-tiba saja, seekor ular mendesis-desis perlahan mendatangi kaki
Abu Bakar yang terlentang. Abu Bakar menatapnya waspada, ingin sekali
ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun,
keinginan itu dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur
nyaman Rasulullah. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih
itu.
Abu Bakar meringis, ketika ular itu menggigit pergelangan
kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun. Dan ular itu
pergi setelah beberapa lama. Dalam hening, sekujur tubuhnya terasa
panas. Bisa ular segera menjalar cepat. Abu Bakar menangis diam-diam.
Rasa
sakit itu tak dapat ditahan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes
mengenai pipi Rasulullah yang tengah berbaring. Abu Bakar menghentikan
tangisannya, kekhawatirannya terbukti, Rasulullah terjaga dan
menatapnya penuh rasa ingin tahu.
“Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini” suara Rasulullah memenuhi udara Gua.“Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun” potong Abu Bakar masih dalam kesakitan.“Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?”“Seekor ular, baru saja menggigit saya, wahai putra Abdullah, dan bisanya menjalar begitu cepat”
Rasulullah menatap Abu Bakar penuh keheranan, tak seberapa lama bibir manisnya bergerak
“Mengapa engkau tidak menghindarinya?”“Saya khawatir membangunkan engkau dari lelap” jawab Abu Bakar sendu. Sebenarnya ia kini menyesal karena tidak dapat menahan air matanya hingga mengenai pipi Rasulullah dan membuatnya terjaga.
Saat itu
air mata bukan milik Abu Bakar saja. Selanjutnya mata Al-Musthafa
berkabut dan bening air mata tergenang di pelupuknya. Betapa indah
sebuah ukhuwah.
“Sungguh bahagia, aku memiliki seorang seperti mu wahai putra Abu Quhafah. Sesungguhnya Allah sebaik-baik pemberi balasan”.
Tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Al-Musthafa
meraih pergelangan kaki yang digigit ular. Dengan mengagungkan nama
Allah pencipta semesta, Nabi mengusap bekas gigitan itu dengan
ludahnya. Maha suci Allah,seketika rasa sakit itu tak lagi ada. Abu
Bakar segera menarik kakinya karena malu. Nabi masih memandangnya
sayang.
“Bagaimana mungkin, mereka para kafir tega menyakiti manusia indah seperti mu. Bagaimana mungkin?” nyaring hati Abu Bakar kemudian.
Gua
Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar yang beristirahat
dan Rasulullah berjaga. Dan, Abu Bakar menggeleng kuat-kuat ketika
Rasulullah menawarkan pangkuannya.
Tak akan rela, dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu.






0 komentar:
Posting Komentar